Blog

Implikasi Manajerial Implementasi Public Cloud

Dalam hal ini saya menyadari bahwa memulai implementasi ke public cloud dapat menjadi sesuatu hal yang membingungkan bagi banyak perusahaan. Dalam rangka membantu perusahaan menentukan faktor-faktor apa saja yang akan menjadi pertimbangan untuk implementasi layanan public cloud, ada beberapa variabel-variabel yang menjadi dasar saya membangun penelitian saya, yaitu perceived usefulness, perceived ease of use, security, cost, reliability and agility, attitude toward using and actual use system. Hasil penelitian saya menghasilkan 6 faktor baru yang saya interpretasikan sendiri, yaitu : Adaptif, Perfoma, Hemat, Fleksibel dan Kecepatan yang mempunyai pengaruh positif dan Gangguan berpengaruh negatif dalam implementasi public cloud.

Bagaimanakah implikasi manajerial implementasi public cloud dari keenam faktor tersebut? Berikut saya akan bahas secara detail.

1.       Adaptif

Kunci kata “adaptif” adalah mudah menyesuaikan dengan kondisi. Ketika sebuah perusahaan menjalankan proses bisnisnya dan bertahan di pangsa pasar, perusahaan harus selalu melakukan inovasi, perubahan strategi dan pengembangan dalam menyesuaikan permintaan pasar dan meningkatkan performansi. Maka dari itu diperlukan dukungan teknologi informasi yang dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perubahan-perubahan perusahaan. Hadirnya teknologi baru yaitu layanan public cloud, diharapkan dapat mendukung strategi bisnis perusahaan bisa lebih mudah diimplementasikan.

 2.       Performa

Peforma yang dimaksud adalah bagaimana layanan public cloud dalam meningkatkan produktivitas perusahaan. Jikasuatu perusahaan memilih cloud provider yang menyediakan infrastruktur yang sudah high availability, security yang sudah terstandarisasi dan network yang baik, maka akan meningkatkan performansi teknologi public cloud. Peforma juga erat kaitannya adalah layanan yang mudah dipergunakan dan dapat mengisolasi kegagalan sehingga kegagalan dapat diminimalkan.

 3.       Hemat

Dari beberapa pengalaman diskusi dengan perusahaan, para IT Manager selalu bertanya “Biaya nya berapa ya?, Kenapa lebih mahal dari kondisi sekarang yang masih physical?, Kenapa lebih mahal daripada cloud provider lainnya? dan Apa benefit nya dari sisi biaya?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan untuk memberikan alasan mengapa perusahaan harus mengimplementasi public cloud. Ada beberapa alasan yang dapat diberikan kepada manajemen, yaitu :

Total Cost Ownership (TCO)

Gartner mengemukakan bahwa TCO dari penggunaan teknologi informasi berasal dari capital 32%, administration 14%, technical support 16% dan end user operations 38%. Kebanyakan perusahaan memandang bahwa TCO hanyalah biaya yang dikeluarkan ketika membeli hardware dan software. Pandangan tersebut merupakan pandangan keliru karena ketika perusahaan memutuskan untuk mengiplementasi teknologi informasi, maka perusahaan harus memikirkan dan menghitung biaya untuk :

a.      Present value at the company’s cost of money

Merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat membeli produk dan berapa lama produk tersebut akan digunakan kemudian di-present value-kan.

b.      Training cost

Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pelatihan-pelatihan bagi staff yang memiliki hubungan dalam pengerjaan teknologi informasi tersebut.

c.       Operating cost

Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mendukung dan menjamin bahwa sistem yang dioperasikan berjalan dengan baik. Dapat berupa peningkatan infrastruktur dan sistem keamanan yang sudah ada.

d.      Maintenance cost

Merupakan biaya untuk maintenance. Dalam hal ini, perusahaan juga harus mempersiapkan biaya untuk menghindari jika terjadi bencana dan bagaimana pemulihannya.

Lalu bagaimana implikasi TCO di public cloud?

Saat ini perusahaan lebih senang membeli banyak server dengan kapasitas yang sangat besar untuk mengantisipasi jika terjadi lonjakan transaksi. Akan tetapi kapasitas yang terpakai hanyalah 30%-50% dari setiap server. Selain itu perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk membeli software, license, mengalokasi staff untuk mengelola dan mempersiapkan backup maupun Disaster Recovery untuk antisipasi bencana serta masih banyak lagi biaya yang dikeluarkan.

Salah satu kelebihan menggunakan layanan public cloud adalah perusahaan dapat mengurangi TCO tersebut. Perusahaan hanya membayar biaya yang dikeluarkan sesuai dengan pemakaian kapasitas saja. Sistem biaya yang ditentukan juga sangat fleksibel karena menyesuaikan permintaan perusahaan sehingga perusahaan dapat menambah dan mengurangi kapasitas sesuai dengan kebutuhan.

Return on Investment (ROI)

ROI merupakan alat ukur profitabilitas dari setiap produk yang akan digunakan atau diadopsi. ROI berfungsi sebagai alat kontrol dalam perencanaan dan dasar pengambilan keputusan bagi perusahaan.

Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya masih menggunakan “Traditional IT”, yaitu masih berinvestasi pada pembelian banyak server untuk mendukung seluruh aplikasi nya. Implikasi ROI terhadap penggunaan layanan public cloud adalah membantu perusahaan untuk melihat cost saving antara teknologi yang digunakan sekarang ini dengan teknologi public cloud dalam kurun waktu beberapa tahun. Jika hasil perbandingannya membuktikan bahwa cost saving menggunakan public cloud lebih tinggi, maka menjadi pertimbangan bagi perusahaan.

CAPEX to OPEX

Capital Expenditure (CAPEX) dan Operational Expenditure (OPEX) merupakan istilah yang akan digunakan di bagian keuangan setiap perusahaan. CAPEX dalam TI merupakan biaya yang dikeluarkan pertama sekali di awal untuk membeli hardwaredan software, sedangkan OPEX merupakan biaya yang dikeluarkan untuk untuk pengeluaran operasional IT.

Ketika perusahaan ingin menggunakan layanan public cloud, perusahaan tidak perlu pusing pada saat pertama untuk mengeluarkan biaya pembelian hardware dan lainnya. Karena dengan public cloud mempermudah perusahaan hanya dengan membayar biaya per bulannya saja. Biaya yang sudah direncanakan untuk pembelian hardwaretersebut juga dapat digunakan untuk membantu core business perusahaan seperti membuka cabang atau meningkatkan jumlah produk yang dihasilkan.

4.       Fleksibel

Implikasi manajerial dalam fleksibel adalah mempermudah perusahaan melakukan integrasi antar sistem. Infrastruktur yang disediakan oleh cloud provider dapat kompatibel dengan berbagai sistem dan aplikasi perusahaan. Pada umumnya, aplikasi-aplikasi yang dimiliki perusahaan dapat berjalan di cloud, sehingga perusahaan tidak perlu khawatir harus membeli hardware lagi.

 5.       Kecepatan

Implikasi manajerial dalam kecepatan adalah cepat mengimplementasi sistem yang dibutuhkan perusahaan. Kecepatan belum tentu dikatakan adaptif karena adaptif diartikan mudah dalam melakukan implementasi dan perubahan, semua kebutuhan perusahaan dapat diakomodir dengan menggunakan solusi public cloud.

 6.       Gangguan

Para cloud provider berlomba-lomba memberikan Service Level Agreement (SLA) terhadap availability lebih tinggi dari 99%, 99.5%, 99.9999% hingga ada yang menjanjikan SLA 100%. Perlu dipertanyakan jika cloud provider berani menjanjikan SLA yang tinggi. Peran perusahaan sangat penting untuk melakukan assessment terhadap cloud provider. Assessment yang dapat dilakukan perusahaan adalah :

–          Bagaimana desain infrastruktur yang telah dibangun?

–          Hardware yang digunakan apakah reliable?

–          Apakah memiliki tim yang expert dimana memiliki kualifikasi mengelola cloud?

–          Apakah solusi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan menyelesaikan issue perusahaan yang sudah ada?

–          Bagaimana dengan security yang sudah dibangun.

Share:
0 comments on Implikasi Manajerial Implementasi Public Cloud

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *